Rumus HPP dan 4 tahap cara hitung Harga Pokok Penjualan dengan benar

Rumus HPP cara menghitung Harga Pokok Penjualan

Salah satu hal yang harus anda ketahui dan kuasai sebagai seorang bisnis adalah rumus HPP dan bagaimana cara menghitung HPP untuk produk yang ingin dijual.

Karena mengetahui harga pokok penjualan barang yang anda jual akan membantu anda dalam menetapkan strategi harga agar bisa bersaing.

Banyak pengusaha yang akhirnya gagal karena melewatkan bagian ini.

Bahkan mengetahui harga pokok penjualan (HPP) tidak saja membantu anda melakukan pricing strategy, tetapi juga untuk kebutuhan akuntasi, utamanya laporan laba rugi.

Nah, untuk anda yang masih bingung apa itu HPP,  seperti ap rumus HPP serta bagaimana cara aplikasinya pada usaha anda, tulisan ini penting untuk anda baca.

Kita akan bahas lebih detail dan lengkap.

Apa itu HPP

Untuk pengertian HPP ini kita merujuk pada prinsip akuntasi Indonesia.

Harga Pokok Penjualan (HPP) adalah jumlah pengeluaran serta beban yang diperkenankan, baik langsung maupun tidak langsung untuk menghasilkan barang dan jasa dalam kondisi dan tempat dimana barang tersebut bisa dijual bahkan bisa digunakan.

Secara bebas kita bisa mengartikan HPP ini sebagai biaya yang kita keluarkan dari awal produksi hingga barang sampai ke tangan konsumen.

Mulai dari biaya operasional, bahan baku, biaya overhead, transportasi hingga pemasaran.

Kalau mau dibuat lebih simple lagi, Harga Poko Penjualan (HPP) sama dengan biaya produksi ditambah biaya distribusi. Ya, sesederhana itu

Baca juga: Cara mengatur keuangan keluarga

Elemen pembentuk HPP

Agar anda tahu berapa HPP, tentu saja anda harus tahu apa saja komponen-komponen pembentu HPP ini, kita akan bahas lebih lanjut.

Persediaan awal barang dagang

Persediaan awal barang dagang merupakan persediaan barang yang tersedia pada awal periode atau tahun buku berjalan.

Biasanya kita bisa melihat saldo persediaan awal barang dagang dari neraca saldo periode berjalan atau neraca tahun sebelumnya atau neraca awal perusahaan.

Jika anda belum tahu bagaimana cara mengetahui dan menghitungnya, mungkin pada lain kesempatan kita akan bahas khusus untuk anda.

Persediaan akhir barang dagang

Persediaan akhir barang dagang adalah persediaan barang dagang yang tersedia di akhir periode atau akhir tahun buku berjalan.

Saldo ini biasanya bisa dilihat pada data penyesuaian perusahaan pada akhir periode.

Untuk anda yang disiplin dalam membuat laporan keuangannya pasti dengan mudah mengetahui persedian akhir barang dagang ini.

Pembelian bersih

Pembelian bersih adalah seluruh pembelian barang dagangan yang dilakukan perusahaan, baik pembelian dalam bentuk tunai maupun kredit, ditambah biaya angkut pembelian dikurangi potongan pembelian dan retur pembelian yang terjadi.

Rumus HPP

Oke, sekarang kita masuk pada pembahasa rumus HPP.

Untuk memudahkan anda memahaminya, nanti kita akan sertakan juga studi kasus menghistung Harga Pokok Penjualan (HPP) ini. Sabar ya : )

Alur yang harus anda ikuti adalah sebagai berikut :

Menghitung Penjualan Bersih

Penjualan Bersih = Penjualan – (Retur Penjualan + Potongan Penjualan)

Perlu anda ketahui bahwa ongkos angkut atau biaya distribusi barang tidak dimasukan dalam penghitungan HPP, karena akan dimasukan pada biaya umum.

Menghitung Pembelian Bersih

Pembelian Bersih = (Pembelian + Ongkos Angkut Pembelian) – (Retur Pembelian + Potongan Pembelian)

Item yang dimasukan pada biaya pembelian bersih ini adalah ongkos ankut, retut pembelian serta potongan pembelian seperti diskon, promo dan lain sebagainya.

Menghitung Persediaan Barang

Persediaan Barang = Persediaan Awal + Pembelian Bersih

Untuk persedian barang ini jauh lebih mudah dipahami, cukup tambahkan persedian barang awal dan pembelian bersih periode berjalan.

Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP)

Nah, sekarang kita masuk pada rumus HPP.

Harga Pokok Penjualan = Persediaan Barang – Persediaan Akhir

Untuk mendapatkan HPP, kita harus mengurangi persedian barang pada periode berjalan dengan persedian akhirnya.

Agar lebih mudah dan gampang untuk dipahami, mari kita bahas menggunakan studi kasusnya. Mudah-mudahan tidak tambah bingung.

Cara Menghitung HPP Berdasarkan Studi Kasus

Ritelia Indonesia, pada tanggal 31 Januari 2021 memiliki:

  • Persediaan barang dagangan (awal) Rp 45.000.000
  • Pembelian Rp 90.000.000
  • Beban angkut pembelian Rp 4.000.000
  • Retur pembelian Rp 4.500.000
  • Potongan pembelian Rp 2.000.000
  • Persediaan barang dagangan akhir Rp. 38.500.000

Berikut cara menghitung HPP PT. Ritelia Indoneia

  • Pembelian Bersih = (Pembelian + Biaya Angkut) – (Retur Pembelian + Potongan Pembelian)
  • Pembelian Bersih = (Rp 90.000.000 + Rp 4.000.000) – (Rp 4.500.000 + Rp 2.000.000)
  • Pembelian Bersih = Rp 94.000.000 – Rp 6.500.000
  • Pembelian Bersih = Rp 87.500.000.

 

  • Barang tersedia dijual = (Persediaan awal + Pembelian bersih)
  • Barang tersedia dijual = (Rp 45.000.000 + Rp 87.500.000)
  • Barang tersedia dijual = Rp 132.500.000
  • Harga Pokok Penjualan = (Barang tersedia dijual – Persediaan akhir)
  • Harga Pokok Penjualan = Rp 132.500.000 – Rp 38.500.000
  • Harga Pokok Penjualan = Rp 94.000.000

Jadi, Harga Poko Penjualan (HPP) PT. Ritelia Indonesia pada periode ini adalah Rp. 94.000.000

Agar proses penghitungan HPP ini tidak salah, maka anda harus menyiapkan laporan keuangan dengan benar, sehingga data yang digunakan adalah data valid.

Jika HPP anda tidak akurat, mungkin ada diantara komponen diatas yang salah.

Jika anda punya masalah, tantangan tertentu dalam membuat HPP diperusahaan anda, silahkan berikan komentar anda dan bisa diskusikan bersama-sama.

Siapa tahu teman-teman pembaca lain bisa memberikan feedback juga.

Terimakasih dan semoga tulisan cara menghitung HPP ini bisa memudahkan usaha anda kedepannya. Aamiin.